Setiap tahun di sekolah St. Louis 1 kami, diadakan kegiatan imersi. Imersi sendiri berarti melibatkan diri. Sekolah St. Louis bekerja sama dangan banyak pihak demi terlaksananya program ini.  Tujuan dari kegiatan imersi ini adalah untuk mengajarkan kepada siswa-siswi St. Louis 1 nilai-nilai yang tidak akan pernah didapatkan dari hidup mereka dengan cara menerjunkan siswa-siswi langsung ke desa-desa dan biara-biara.

foto
Siswa-siswa SMAK ST. Louis 1 berfoto dengan para frater di Novisiat Karmel

 

        Pada hari Selasa, 11 Desember 2018, saya memulai kegiatan imersi yang diadakan oleh sekolah St. Louis 1. Kegiatan ini dibuka dengan pengarahan yang dilakukan di sekolah. Karena tidak banyak informasi tentang imersi yang diberikan sebelumnya, pegarahan ini sangatlah penting. Di dalam pengarahan ini, kemi diberi tahu lokasi imersi kami. Saya ditempatkan di Novisiat Karmel di Batu. Pengarahan ditutup dengan misa untuk memohon kelancaran imersi 2018.

         Keesokan harinya, Rabu, 12 Desember 2018, adalah hari keberangkatan ke tujuan kami masing masing. Karena saya akan ke Novisiat Karmel, saya berkumpul di Stasiun Gubeng Baru. Kami berangkat pukul 07:30 menggunakan KA Penataran. Kami turun di Stasiun Malang pada pukul 10:20. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Novisiat Karmel dengan menggunakan angkot. Kami harus berdesak desakan di dalam angkot tersebut dan bahkan ada teman kami yang duduk di pintu angkot. Karena Novisiat Karmel dan Novisiat SVD berseberangan, angkot yang ke Novisiat SVD dan angkot yang ke Novisiat Karmel sejalan. Pak Kresna, guru pembimbing siswa yang ke dua novisiat ini, ikut angkot kami yang ke Novisiat Karmel. Angkot yang ke SVD tidak terawasi oleh guru. Alhasil, teman kami yang duduk di pintu di angkot tersebut terjatuh dan kepalanya terluka. Ia langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat dan kepalanya harus dijahit.  Karena kecelakaan ini, kami terlambat 4 jam dari jadual kami semula. Dari pengalaman ini, kita bisa mengambil nilai bahwa keselamatan adalah hal yang terpenting. Jangan pernah bermain-main dengan keselamatan nyawa anda sendiri.

          Pada saat kami tiba di Novisiat Karmel, kami disambut oleh frater. Kami diberi tour oleh frater tersebut. Setelah itu, kami snack di refter, ruang makan di novisiat. Kami disuguhi ubi rebus yang bagi kami terasa tidak terlalu enak. Namun, hanya itu makanan yang tidak saya sukai. Makanan di hari-hari berikutnya enak-enak semua. Lalu kami ibadat sore menggunakan buku ibadat harian atau yang biasa disebut brevir. Tidak seperti buku ibadat pada umumnya yang dibaca secara linear dari depan ke belakang, brevir dibaca dengan melompat-lompati halaman. Pada awalnya kami bingung, tetapi ada frater yang ditempatkan disebelah kami masing-masing yang menunjukkan halaman mana yang di gunakan di ibadat tersebut. Setelah ibadat pagi dan sore, biasanya diikuti dengan meditasi selama 30 menit. Saya pertamanya tidak terlalu yakin akan kemampuan saya untuk diam selama 30 menit. Akan tetapi, setelah beberapa hari, saya terbiasa juga.

          Setelah meditasi, kami makan malam di refter. Makanan yang disuguhkan bervariasi dan enak. Lalu kami melakukan lectio divina, yaitu pendalaman kitab suci. Injil yang diambil berpesan bahwa kita harus bertobat sebelum terlambat dan dengan cara masing-masing. Lalu setiap hari ditutup oleh completorium, yaitu ibadat penutup.

         Pada malam hari, lampu di lorong-lorong dimatikan sehingga diluar kamar sangatlah gelap. Ada teman-teman saya yang memindah kasur mereka ke kamar teman mereka yang lain sehingga dalam 1 kamar ada lebih dari 1 kasur. Kemudian para frater menjelaskan bahwa salah satu keistimewaan Novisiat Karmel adalah kamar yang diibaratkan dengan sel penjara. Satu kamar hanya boleh ditempati oleh satu orang. Maka kasur yang tadi dipindah harus dikembalikan.

          Pada hari berikutnya yaitu hari Kamis, adalah hari pertama kami melaksanakan kegiatan penuh 1 hari di Novisiat Karmel. Kami harus bangun pukul 4:30 karena ibadat pagi pukul 5:00. Karena pagi di Batu sangat dingin. Saya biasanya mandi pukul 10:00. Jadi saya hanya menyikat gigi. Setelah ibadat pagi, menyusul misa pagi dan meditasi pagi. Kemudian kami makan pagi, lalu opus pagi, yaitu bekerja di Novisiat. Terkadang kami membersihkan Novisiat, terkadang kami memetik tomat, atau memberi makan ternak. Lalu kami istirahat. Setelah istirahat, kami ibadat siang pukul 12:00. Lalu makan siang. Pada saat makan siang, kami mendaraskan mazmur dahulu, lalu romo memimpin doa makan. Saya disadarkan kembali bahwa sebelum dan sesudah melakukan sesuatu harus berdoa karena Tuhan menganugerahkan semua hal itu kepada kita.

          Pada hari Kamis adalah hari olah raga. Maka pada pukul 16:00, kami berolahraga di lapangan yang terletak di belakang Novisiat Karmel. Kami semua terkejut oleh kemampuan para frater dan romo yang atletis. Mereka bisa bermain voli, basket, pingpong, dan bahkan futsal. Mereka sangat kompetitif dengan kami.

          Pada hari Jumat adalah hari Silentium Magnum, yaitu hari padang gurun, diibaratkan padang gurun karena hanya boleh berbicara seperlunya saja. Keheningan harus tetap terjaga sampai makan pagi pada hari sabtu. Tetapi, karena hari itu bertepatan dengan pesta Santo Yohanes dari Salib. Kami hanya melakukan Silentium Magnum setelah makan siang. Hening selama setengah hari saja merupakan hal yang sangat sulit sehingga saya bosan. Maka saya tidur setelah opus siang. Hari itu juga ada adorasi Sakramen Maha Kudus yang disebut ibadat Taize. Kami harus berdoa dan bernyanyi sambil berlutut selama 60 menit. Kemudian pada saat istirahat sebelum completorium, saya tidak tahan sehingga saya berbicara dengan teman saya di kamar. Kebetulan romo lewat dan menegor kami. Lalu kami kembali hening. Saya menyadari bahwa terkadang, kita perlu hening dan merefleksikan diri untuk memperbaiki diri kita.

          Pada hari Sabtu, kami ada rekreasi. Setelah makan malam, kami menuju ruang rekreasi Novis 2 untuk bermain. Ada kartu remi, kartu uno, catur, dan televisi. Juga ada piano dan gitar untuk dimainkan di ruang tersebut. Kebersamaan dengan para frater paling terasa saat rekreasi, saat para siswa Sinlui membaur bersama frater-frater. Mereka bukanlah orang yang hanya berdoa saja, mereka juga manusia yang butuh makan, tidur, dan rekreasi.

          Pada hari minggu adalah hari terakhir kami di Novisiat Karmel. Pada hari itu, kami boleh bangun jam 5:30 karena misa umum diadakan lebih siang dari hari-hari biasanya. Namun karena kami terbiasa bangun jam 4 pagi, banyak dari kami yang bangun jam 4. Ternyata, sesuatu yang sulit jika dilakukan terus menerus, lama-kelamaan bisa terasa mudah. Setelah makan pagi, kami berkumpul di Novisiat SVD untuk sharing pengalaman. Kami dapat berbagi pengalaman kami kepada yang lain dan mengambil pelajaran baru bagi diri kami sendiri. Seperti pada saat berangkat, kami naik angkot untuk ke Stasiun Malang. Namun kali ini, agar tidak ada yang terjatuh, pintu pada angkot kami ditutup. Puji Tuhan tidak ada yang terluka pada perjalanan kali ini. Lalu kami naik KA Penataran lagi untuk kembali ke Surabaya. Di dalam kereta, kami juga berbagi pengalaman kami kepada siswa-siswi yang berbeda tujuan dengan kami. Kami tiba di Stasiun Gubeng Baru pada pukul 19:15. Berakhirlah sudah kegiatan Imersi 2018 ini. Semoga semua pihak yang terlibat dapat mengambil pelajaran yang berharga dari kegiatan ini.

About the author
Alexander Kevin
I'm A self-certified software Engineer. I may or may not be a robot.

Comments (01)

  1. Kegiatan imersi yang cukup menarik. Namun, penggunaan bahasa dalam pembuatan artikel ini masih perlu diperhatikan. Selebihnya sudah bagus. Thank you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add to cart